SELAMAT DATANG DI GUBUK KAMI


Sekali waktu di bulan Agustus 2010, saya mampir dan mengunjungi Pastor Ernst Waser, SVD, seorang misionaris Swiss yang bertugas di Paroki Wangkung, Keuskupan Ruteng, Manggarai - Flores. Tatkala berpamitan dengan beliau, pastor yang sederhana ini berjabatan tangan dengan saya sambil berucap, "Engkau anak petani, saya juga anak petani. Jangan pernah engkau tinggalkan mereka dan mari kita bersama membangun petani!"


Kami memang berbincang tentang petani, anak petani, kursus pertanian dan pendidikan petani. Tentu tak sekedar mengobrol tentang karya yang satu ini. Tapi saya melihatnya sebagai karya yang sungguh vital dalam karya Gereja. Bicara tentang pertanian, kita sentuh tentang soal pangan. Dan tanpa pangan tak ada kehidupan. Gereja sendiri mendasarkan kehidupannya pada PANGAN ABADI, EKARISTI. Yesus Kristus yang memberikan diri dan hidupNya sebagai sumber pangan abadi manusia inilah yang meminta kita untuk berpihak dengan petani dan karya pertanian.


GUBUK PASTOR TANI ini kami harap menjadi tempat beristirahat sejenak, untuk berbincang bersama petani, dan menggali sumber kekuatan karya ibu kehidupan ini dari Sumbernya yang pertama, Allah sendiri.
Selamat datang ke Gubuk kami dan ajaklah sahabatmu mampir sejenak.

Saturday, 2 April 2011

09. PASTORAL PERTANIAN - SALAH SATU MODEL PASTORAL YANG PEDULI LINGKUNGAN

Catatan:

Tulisan ini disajikan pada Acara BERANDA ROHANI di Radio Sonya FM Maumere, pd Minggu 03 April 2011, jam 18.00-20.00 WITA.

Pengantar – Pilihan untuk Menghidupkan Komitmen Misioner akan Eco-Pastoral.

Baru sebulan yang lalu, tepatnya 1 Maret 2011, dalam diam dan dinginnya Mataloko di Kecamatan Golewa, Kabupaten Ngada, bersama sekelompok orang yang setia menjabarkan semua rencana dan cita-cita untuk mengembangkan pertanian organik, saya memberkati peternakan babi serta taman tani lestari, dalam sebuah upacara sabda yang hikmad, dalam suasana inkulturasi yang kental. Nama yang diberikan kepada upaya ini sudah ada sejak 10 tahun silam, “SESAWI” – berinspirasi pada nama tumbuhan yang bijinya paling kecil di antara semua jenis pohon, dalam perumpamaan Yesus tentang Kerajaan Allah. Taman Tani Lestari Sesawi – itulah nama kegiatan yang adalah satu gerakan dan komitmen untuk mengembangkan pertanian organik – salah satu pola pertanian yang peduli lingkungan, menyehatkan dan sebenarnya murah biayanya.

Tetangga di sekitar tempat itu bilang, “Pastor ini urus bisnis bersama keluarganya”, dan saya tidak balas kata mereka. Berulangkali saya bilang kepada mereka yang bekerja bersama saya, “Saya buat ini bukan untuk menyaingi apa yang orang buat. Tapi yang kita kerjakan ini adalah langkah untuk menghidupkan kembali semangat para misionaris yang dikuburkan di tengah kita, yang memilih pertanian sebagai satu pendekatan pastoral yang menyapa umatnya, karena petanilah yang paling sering kita jumpai dalam pelayanan pastoral kita dan dari pertanianlah kita hidup. Dalam kenangan akan mereka seperti Pater Hubertus Hermens SVD, Pater Herman Scholte SVD, Pater Mommerstag SVD, Pater Ben Baack SVD inilah, saya coba menghidupkan pilihan pastoral yang peduli lingkungan hidup, “Eco-Pastoral” – mulai dari sawah, kebun, kandang hewan, tambak ikan hingga kepada ruang kuliah serta berbagai pertemuan. Pastoral dengan pemikiran seperti ini memang harus dikembangkan sekarang ini, karena paham kita sekarang tentang keselamatan, bukan hanya menyangkut keselamatan jiwa dan keselamatan rohaniah, tetapi keselamatan yang menyangkut jiwa dan raga, menyangkut manusia maupun alam di mana dia berada.
Karena itu karya pastoral kita yang lebih tepat sasar dewasa ini sebenarnya harus ditunjukkan juga melalui perhatian pastoral yang lebih seimbang dan tak terpisahkan antara pelayanan kepada manusia dan juga pelayanan kpada alam lingkungan hidup. Eco-pastoral mencoba untuk menghidupkan komitmen untuk membina hubungan baik antara manusia, hubungan baik antara manusia dengan alam lingkungannya sesuai dengan maksud Allah yang telah menciptakannya. Ini adalah sebuah pilihan dalam karya pastoral Gereja, karena kita sebagai Gereja sadar akan kedosaan kita dan ingin ditebus dari dosa itu. Dan penebusan dan keselamatan yang demikian, harus memperhatikan konteks pastoral. Kalau mau selamat bukan hanya di masa yang akan datang, tetapi selamat di dunia ini, kita mesti mampu menilai, menghargai dan memperlakukan sesama ciptaan baik manusia maupun alam sebagai lingkungan hidupnya yang wajar.
Jadi peduli dengan Eco - Pastoral sama artinya dengan peduli dengan keselamatan kita baik keselamatan akhirat maupun keselamatan di dunia ini, untuk manusia dan alam yang menghidupkan manusia itu. Ini pilihan pastoral yang tidak hanya bicara tentang pemeliharaan jiwa-jiwa, tetapi pemeliharaan jiwa dan badan, memperhatikan kesejahteraan jiwa untuk keselamatan eskatologis tetapi juga kesejahteraan badan karena kita masih ada di bumi dengan semua urusannya.

Mengapa Memilih Peduli dengan Pastoral Pertanian?

Menyebut pertanian, saya pikir bukan soal petani semata-mata. Orang-orang yang mengerti tentang pertanian, pasti akan segera menyebut semua sub sektor yang dinaungi oleh pertanian ini, yaitu, pertanian, peternakan, perkebunan dan perikanan secara khusus perikanan air tawar. Semua yang disebutkan ini menghasilkan apa yang kita kenal sebagai pangan, makanan, yang tanpa dia kita semua tak bisa hidup. Jadi sebenarnya memilih sebuah model pastoral terapan di bidang pertanian adalah pilihan untuk memperhatikan secara khusus persoalan pangan dan penyediaannya sebagai satu karya pastoral. Dan kalau saya bilang itu karya pastoral, itu artinya suatu karya kegembalaan, karya untuk memelihara, karya untuk memperhatikan untuk menyelamatkan sesuai dengan Kehendak Tuhan kita sendiri. Karya ini tidak lain adalah upaya kita orang beriman untuk menghadirkan, melanjutkan dan mengembangkan karya Yesus Kristus demi menyelamatkan manusia dan alam lingkungannya. Yesus itu bukan hanya penyelamat manusia, tetapi kita sebut sebagai Raja Semesta Alam, penyelamat manusa dan alam semesta. Jadi kita mesti perhatikan pertanian, karya untuk menyediakan pangan ini sebagai satu karya pastoral, karena Yesus Kristus yang kita imani itu menjadi Roti Hidup, Makanan Abadi, Ekaristi yang menjadi sumber dan puncak hidup Gereja.

Menjadikan pastoral pertanian sebagai sebuah model karya pastoral karenanya hemat saya adalah sebuah pilihan vital yang mesti dikembangkan gereja lokal di wilayah ini, yang telah menghabiskan ratusan juta rupiah untuk berbicara tentang Pastoral Pembebasan dan Pemberdayaan sebagai strategi pastoralnya. Kenapa menjadi pilihan vital? Saya rasa secara mudah kita akan bilang, “Mayoritas umat kita adalah petani, yah … wajar sekali kalau kita menjadikan pastoral pertanian sebagai pilihan yang menyapa mereka.”

Adakah inspirasinya? Dan apa saja yang perlu dilakukan?

Kembali kepada misionaris yang saya sebut tadi, secara khusus Pater Hermens SVD. Saya mengenal dia ketika masih kecil hingga saya frater, merasakan perhatiannya yang begitu besar terhadap pertanian, secara khusus persawahan di wilayah Ngada bagian Selatan, bernama ZaA di kecamatan Golewa. Tentang proyek besar ZaA ini, dia bilang, “Saya punya visi dan rencana besar yang jelas. Saya akan keluarkan uang dari saku orang-orang yang dukung saya dan dari sakunya pemerintah. Saya akan pakai kekuatan kemajuan teknologi bersandingan dengan budaya lokal. Dan bersama dengan umat yang dukung karya ini, saya akan membuat karya besar ini sebagai karya yang berguna, tahan zaman dan dinikmati banyak orang.” Apa yang terjadi kemudian? ZaA menjadi satu karya yang menghidupkan ribuan orang dan bertahan hingga kini. Dan tiada hari, tiada pertemuan, tiada doa yang tidak ingatkan umatnya tentang proyek ini. Bagi Pater Hermens, pertanian adalah metode pastoral yang menyapa umatnya.

Berkisah tentang pilihan seperti dia, saya mau bilang bahwa menjadikan patoral pertanian sebagai pilihan harus mulai dengan visi yang kuat dan jelas. Visi itu berkaitan dengan dasar tindakan: dasar ilmiah, dasar spiritual, rohaniah, dasar pastoral dan dasar budaya. Itulah yang sekarang saya perkenalkan di ruang kuliah, di tempat kursus, di tempat pertemuan, di internet, di radio. Untuk apa? Agar orang tahu, dan melalui sekelompok orang yang punya minat dan keahlian, kita mulai bekerja dan mengembangkannya. Maka di sini kita butuh kader-kader terlatih, terdidik dan yang mencintai bidang ini. Ini sulit tetapi harus dibuat. Dan saya kirimkan anak-anak muda ke Bogor, mungkin nanti ke Bali juga. Saya berkontak dengan orang ahli pertanian, ahli ternak, ahli perikanan. Saya libatkan mereka semua yang hebat dalam bidang ini untuk bantu, dan menjadikan visi ini sebagai kesempatan buat mereka mewujudkan impian mereka.

Cukupkah itu? Tentu saja belum cukup. Langkah berikutnya ialah jelaskan visi ini kepada yang punya uang, mereka yang punya modal, dan mereka yang memutuskan. Kepada siapa? Yah … siapa lagi kalau bukan orang seperti teman, sahabat dan tentu saja pemerintah. Mereka ini punya kuasa, mereka punya uang, mereka punya kepentingan, entah kepentingan bisnis, politik maupun kepentingan jual imij. Kita jelaskan visi ini kepada mereka. Dan minta mereka, beri jaminan kepada mereka agar mereka beri uang mereka.

Hal yang sama juga kita jelaskan kepada lembaga keuangan. Yang ini saya ingatkan saja, dengan bank, kita mesti punya jaminan. Bank tak akan beri modal tanpa jaminan. Dan sialnya di wilayah ini ‘orang miskin’ tak bisa pinjam dari bank, biar mereka bilang bisa atas nama Kredit Usaha Rakyat (KUR), jangan percaya dulu. Mengingat upaya para misionaris di wilayah ini secara khusus pater Ben Baack SVD, saya anjurkan, kalau kita miskin, kita masuk jadi anggota koperasi kredit, CU. Saya sendiri masuk anggota CU Sube Huter di Nita, rajin simpan dan rajin pinjam. Buat apa? Karena ini juga bagian dari konsep eko-pastoral. Saya pinjam dari CU. Saya pernah duduk tiga jam di kantor direktur utama sebuah bank di Flores ini, berdiskusi, dijanjikan pinjaman untuk usaha ternak, tetapi sampai saat ini kredit dimaksud tak pernah keluar. Apa soalnya. Saya kira karena dia anggap bahwa “pastor ini miskin sehingga pasti dia tidak bisa kembalikan pinjamannya. Ia tak punya jaminan".

Berikutnya, uang boleh ada, modal boleh berlimpah, itu tidak akan jalan kalau tak ada teknologi yang mudah diterapkan, teknologi aplikatif. Teknologi dan mesin-mesin, orang ahli dan terlatih, tetapi tetap serasi dengan nilai adat dan budaya setempat serta akrab lingkungan, peduli dengan semua yang ada di sekitarnya. Maka saya kirim orang ikut pelatihan pertanian organik, pelatihan untuk pertanian kultur jaringan (permakultur), pelatihan untuk perikanan, saya kirimkan anak untuk kuliah pertanian, perikanan, dan mereka yang mau magang di teman-teman yang mau bantu. Dan untuk orang sederhana saya datangkan juga orang untuk buat pelatihan di tempat mereka.

Ini semua adalah langkah-langkah yang perlu dibuat, kalau mau kembangkan pastoral pertanian sebagai satu pilihan pastoral di wilayah ini.

Bagaimana eco-pastoral itu bisa dijalankan secara sederhana?

Nama eco-pastoral memang tidak sederhana. Tapi sebenarnya kita bicara hal yang ada di depan mata kita. Saya bicara hal yang sama ini kepada mahasiswa saya. Sederhananya ialah bagaimana kita pikir, kita rencanakan dan kita laksanakan dalam pastoral kita berhubungan dengan tanah atau bumi kita ini? Berhubungan dengan air? Berhubungan dengan hutan dan daerah perlindungan laut? Berhubungan dengan kesadaran lingkungan yang bersih dan sehat, sampah, jalan di paroki, di kota dan desa? Saya punya teman Romo Arkadius Dhosa Pr di Habi sana sudah mulai di sana, besar-besaran pula. Ia masuk kebun jagung, urus air, itulah bentuk konkritnya.

Dalam hubungan dengan pertanian, bagaimana Gereja dalam hal ini fungsionaris pastoralnya masuk kebun, sawah, peternakan, tambak ikan, juga pesisir pantai untuk berpastoral di sana? Jangan sampai pastornya masuk ke sana untuk tagih uang iuran saja dan tak pernah ada di sana untuk memberkati benih, memberkati panen. Kalau memberkati saja tidak, bagaimana bisa harapkan agar fungsionaris pastoralnya beri masukan, undang orang ahli untuk bantu petani, peternak, urus soal hukum dan gerakan massa untuk meminta pemerintah untuk perhatikan petani dan hak-haknya.

Contoh-contoh sederhananya?

Saya beri beberapa contoh sederhana ini: Kalau kita lihat Maumere atau Sikka ini, kelapanya bukan main banyaknya? Tapi coba pergi kunjungi dapur-dapur di sini? Minyak goreng apa yang ada? Pasti bukan minyak kelapa yang digunakan. Yang ada minyak bimoli. Dari apa bimoli dibuat? Kelapa sawit. Adakah kelapa sawit di sini? Tidak ada. Kalaupun ada hanya di depan kantor bupati lama itu. Jadi kita beli minyak bimoli, kita kirim uang yang sudah sedikit di Flores ini kembali ke Jawa, Sumatera, Kalimantan. Saya mulai dengan buat minyak kelapa. Bahannya ada, minyaknya untuk kita pakai sebagai minyak goreng yang sehat, minyak kelapa murni untuk sembuhkan banyak penyakit, dan ampasnya untuk makanan babi yang kadar proteinnya sampai 21 %.

Lain lagi dengan soal sawah untuk tanam padi. Saya ajak teman-teman yang piara ternak seperti ayam, babi, itik untuk tidak membeli beras untuk memenuhi kebutuhan mereka akan makan nasi, tetapi beli padi. Kenapa beli padi. Dengan beli padi, saya promosikan petani untuk usahakan padi sebagai produk pertaniannya. Dari padi, kita jemur lalu kita giling. Berasnya untuk kita jadikan nasi, dedak halusnya untuk makanan ternak dengan kandungan protein 12 %, lalu dedak kasarnya sebagai bahan utama untuk pembuatan pupuk organik. Belum lagi dedak kasar untuk buat batu merah untuk bangunan. Untuk petani sendiri, tanam padi kita padukan dengan ternak, dengan ikan. Batang padi setelah panen, potong dia, masukkan di gudang, buat dia jadi pakan ternak, jadi media kolam ikan. Belum lagi metode tanam padi dengan Sistem Intensifikasi (SRI). Bibit sedikit, air tak butuh banyak, pupuknya pake kotoran hewan, inseksisidanya dari daun-daun setempat, dan tak pusing dengan penyiangan. Belum lagi tentang konsep terpadu mengelola pertanian, peternakan dan perikanan di lahan yang sempit.

Contoh lain, tentang soal sampah. Keuskupan Jakarta itu buat gerakan hidup bersih dan sehat dengan menjadikan soal sampah sebagai pintu masuk pastoralnya. Kita bisa menjadikan juga soal sampah ini sebagai pilihan pastoral. Bagaimana bentuknya? Harus mulai dengan penyadaran tentu saja, lalu diikuti dengan memperlakukan sampah dengan benar demi hidup sehat. Pisahkan sampah organik, metal, plastik dan perbiasakan itu mulai di rumah tangga, di sekolah, di kantor. Buat sticker dan tempel di tempat sampah. Lalu yang organik, olah dia jadi pupuk, jadi makanan ternak, makanan ikan yang pada gilirannya kita nikmati hasilnya. Maka sampah jadi peluang usaha jadinya.

Bisakah ini dijalankan? Ya, pasti bisa, kalau kita ada massa, ada di lapangan. Saya tak bisa buat sebagai satu gerakan yang terlihat orang, karena saya bukan pastor paroki, saya tak punya umat. Lebih celaka lagi, kalau orang seperti kami ini dilihat tak bisa buat banyak karena ada di lembaga pendidikan. Makanya via sekelompok orang muda, dengan bantuan jaringan baik via telpon maupun via internet, saya sebarkan ide ini. Ada di mana? GUBUK PASTOR TANI. Di sana kita bisa bertemu, di sana kita lihat foto kegiatan lapangan yang sederhan, kecil tetapi jadi dan bermanfaat. Seperti SESAWI. Kecil memang, tetapi dalam pertumbuhannya, ia sudah memberi manfaat. Harapan saya tentu saja, kalau ia bisa bertumbuh jadi pohon, akan ada banyak burung, manusia, yang bernaung di sana.

Copyright © Ledalero, 02 April 2011, by Ansel Meo SVD

Wednesday, 19 January 2011

8. REVITALISE SVD COMMITMENT FOR ECO-PASTORAL APPROACH IN FLORES

PUBLIC LECTURES FOR NORWEGIAN STUDENTS UNIVERSITY OF AGDER IN LEDALERO, (MONDAY, JANUARY 17TH, 2011)

ON ECONOMIC DEVELOPMENT (POVERTY REDUCTION)

Some Efforts to Revitalize SVD Commitment for Eco and Agricultural Pastoral Approach in Flores

(By Fr. Anselm Meo SVD)

First of all I want to thanks all the speakers before me, because from their lectures, we got a sound foundation for our session. Fr. Ansel Dore Dae SVD for examples gave us a historical background on the SVD involvement on Economic Development in this island, and Fr. Robert Mirsell SVD, stressed on the government role on the same area. So, for this session I am trying to focus only on some small efforts but real in poverty reduction issue.

SVD Pastoral Approaches for Economic Development in the Past – “Option for the People”

In my view, there have been so many programs run by the Church on economic development for the people of Flores especially since the mission of SVD in Nusa Tenggara in 1913. Some of those programs were excellence and SVD fathers were awarded “NTT rings of Development/Cincin Pembangunan NTT” by the local government of East Nusa Tenggara as pioneers on development of the people.

There were some strong steps which they combined for the success of their program that time, such as: a) clear vision and option for the people, (b) work together with government and other organization to provide funds for their project, (c) implementing the power of science and technology through training and formal and vocational schools for people.

These three points always mention about people, in fact this is the key for poverty reduction. Rev. Mgr. Hubertus Hermens Makumaja, SVD, my former parish priest in Laja said about the irrigation of ZaA in Ngada District as follows, “For Zaa project, I have a clear vision, I used money out of government pockets, I embrace the use of technology and the willingness of the people to help themselves getting out of poverty”.

Revitalize the Option for the People in Eco-Agriculture Pastoral Approach

I mentioned this great personality like Fr. Hubertus Hermens SVD to underline that the choice I made on implementing the Eco - Pastoral especially Agriculture Pastoral approach is not a new choice for doing pastoral in Flores context but we are indeed trying to revitalize the choice of SVD fathers in the last two decades.

What can we do now?

Working for poverty reduction, we know that we cannot do it alone and we cannot do everything. We have so many people and organizations, government officers, who have this option to poverty reduction. But what we can do, it is our commitment to offer for the people of Flores and to my view it is about revitalize the option of SVD in the past to help people to provide healthy food for themselves, to provide money for the education for their children. These two aspects can be created through a system such as “integrated and sustainable agriculture activities”.

This system need to be carefully planned, because it is costly but can be done in a SVD way. I called it “SVD way” because it was the way well planned and structured in the past by SVD Fathers and Brothers, but the church pastoral agents have destructed them systematically in the name of pastoral strategies of the local church nowadays.

How to To do it?

Here are some small steps to be taken:

1) Providing opportunities for young people for training skill or formal education in agriculture activities and all its sub units:

To enforce this concept, since May 2010, I started the program for the youth, called Taman Tani Lestari Sesawi Flores (Sesawi Flores Sustainable and Integrated Farming), which is intended to:

(a) Prepare a training program for the farmers in order to increase their skills in farming and to improve or increase their agricultural products.

(b) Social-economic service through education and training to the development of the source of human capacity.

(c) Offer training programs for the skills in the field of agriculture, animal husbandry and fishpond development for the out of school youths (those who cannot attain to a higher education), in cooperation with the alumni Agricultural Course Taman Tani Salatiga, Jawa Tengah and alumni Course of Organic Agriculture Foundation Karang Widya, Bogor, Jawa Barat, and Permakultur in Bali.

2) The involvement and commitment of credit institutions such as banks, Credit Union, etc., to provide business capital aid or funding for the people (especially poor people) in micro scale. SVD (Fr. Ben Baack SVD) has successfully installed CU in Flores and trained the people of Flores through education to increase their saving through Credit Union.

3) The use of applied-technology which easily implemented by the local people, using the local resource. Therefore we need an institution like ATMI Semarang to be present here in Flores, and vocational schools in agriculture and its sub units. For this purpose, SVD has to work with the laity as partner not as those who work for us but badly paid their salary.

4) Providing markets and its networking for the people – this will reinforce the business, providing access to the market and improving the business management.

Copyright @ Ledalero, January 17th, 2011, by Fr. Anselmus Meo SVD

Monday, 17 January 2011

7. BUDI DAYA (1)

BUAH NAGA (DRAGON FRUIT)

Dalam konsep Kebun Buah Plus yang dikembangkan oleh Sesawi Flores, selain pepaya bangkok yang telah ditanam, kebun ini akan diisi juga dengan tanaman buah naga.

Karena baru dimulai, berikut ini kami paparkan cara-cara budidayanya, yang dimulai dengan pembibitan, cara menanamnya, juga pemupukan dan perawatannya.

PEMBIBITAN

- Campur media berupa abu + kompos(kambing/ayam) + tanah gembur +pasir sungai, masukkan ke dalam Polybag ukuran sekitar 1 kg.

- Pilih bibit yang cukup tua untuk di tanam yang berasal dari induk yang pernah berbuah.

- Taruh benih di tempat teduh, untuk menghindari panas matahari. Hal ini dilakukan karena benih belum memiliki perakaran yang memadai

- Setelah sekitar 1 bulan, benih bisa ditempatkan di areal dengan intensitas matahari penuh.

- Beri ajir dari potongan bambu atau kayu untuk menahan benih agar tetap berdiri tegak.

- Apabila musim kemarau sebaiknya dilakukan penyiraman air 3 hari sekali dengan air secukupnya.

- Apabila benih sudah memiliki perakaran yang cukup dan telah tumbuh tunas, benih siap di pindah ke areal yang telah disiapkan.

- Pemberian pupuk organik berupa pupuk organik cair bisa di berikan setiap 10 hari untuk mempercepat pertumbuhan vegetatif.

- Pemberian pupuk dengan unsur N, banyak diperlukan untuk mempercepat pertumbuhan vegetataif. Bisa digunakan pupuk Urea atau Za dengan kandungan N mencapai 40%.

- Apabila di temukan busuk pada batang, bisa ditanggulangi dengan cara pembuangan atau pengupasan bagian batang yang busuk, setelah bersih maka semprot dengan larutan fungisida.

- Hama pengganggu buah naga tidak terlalu banyak, pada masa vegetatif biasanya hanya berupa semut atau ulat yang memakan tunas baru, hal ini cukup mudah dengan menyemprotnya dengan insektisida.

PENANAMAN

- Bersihkan lahan dari gulma atau rumput liar.

- Siapkan tiang dengan ukuran 10cmx10cm dengan tinggi 2-2.5m.

- Sipakan media tanam berupa campuran pasir sungai+kompos+tanah gembur +abu sekam(2:3:2:1). Apabila ada tambahkan abu dari limbah pabrik tebu, untuk mempercepat perkembangan akar serabut.

- Siapkan lubang tanam, umumnya dengan jarak 2,5mx3m. Besar lubang 60cmx60cm dengan kedalaman 40cm.

- Tancapkan tiang pada posisi tengah lubang dengan kedalaman 20cm.

- Masukkan media ke dalam lubang sampai penuh.

- PEnanaman bibit bisa dilakukan dengan jarak min. 10 cm dari tiang.

- Setelah beberapa bulan (tergantung dari pemberian pupuk organik) maka pohon tumbuh dengan pesat.

- Ketika pohon mencapai tinggi sejajar dengan tiang, potong ujung tanaman, agar terbentuk percabangan baru. Jaga agar hanya terdapat 4-6 cabang. Cabang bisa diperbanyak, namun biasanya produksi buah akan menurun. Tapi hal ini bisa diatasi dengan pemberian pupuk yang maksimal.

- Setelah umur sudah sekitar 1 tahun, maja pohon siap untuk berbuahh. Untuk merangsang pembungaan dan pembuahan, berikan pupuk organik yang banyak mengandung unsur P dan K atau pupuk organik perangsang bunga. Pupuk kimia dengan kandungan P tinggi antara lain yaitu TSP, ES, Atau DP. Dan untuk pupuk dengan kandungan K tinggi yaitu KCl atau ZK.Justify Full

Copyright © oleh Ansel Meo SVD,
disarikan dari berbagai sumber.

Tuesday, 23 November 2010

6. HUTAN BAKAU : TAMAN KEHIDUPAN YANG MENJEMBATANI KEHIDUPAN DARAT DAN LAUT

Akong dan Upaya Pelestarian Hutan Bakau

Pembicaraan Baba Akong di siang hari nan terik itu, memang masih banyak yang perlu disimak dan diamini kebenarannya. Ketika ditanya oleh para mahasiswa, apakah bakau itu hidup di air ataukah di darat, ia menimpa, "Saya mesti mengatakan bahwa bakau itu bisa hidup di air dan di daratan. Pengalaman saya sendiri, bakau sebenarnya adalah tanaman darat."


Merefleksikan lebih lanjut pernyataannya, Pater Aleks Jebadu SVD menunjuk pada lokasi di mana bakau ditanam sekarang, "Lihat di sini dulu ditanam banyak kelapa, yang sisa-sisa batangnya masih terlihat di sini. Untung bakau di tanam lagi, sehingga daratan bertambah lagi dan abrasi yang disebabkan oleh air laut bisa diatasi."


Hutan Bakau : Taman yang menjembatani dua kehidupan


Kehidupan di hutan bakau sesungguhnya sangat unik. Kedua lingkungan kehidupan baik kehidupan daratan dan kehidupan laut bisa ditemukan dalam kehidupan di sebatang pohon bakau. Makhluk hidup daratan menduduki bahagian atas pohon bakau, sedangkan di bagian pangkal tumbuhan tersebut terbentuk habitat untuk kehidupan laut. Makhluk hidup daratan tidak memperlihatkan adaptasi yang khas untuk hidup di kawasan hutan bakau. Ini adalah disebabkan oleh kenyataan bahwa makhluk itu hidup di bahagian atas tumbuhan bakau. Sedangkan makhluk laut yang hidup di sini bisa dibagi atas dua kelompok, yaitu binatang yang menduduki substrat keras seperti akar sokong pokok bakau dan binatang yang mendiami tanah berlumpur di hutan bakau. Kumpulan binatang laut yang dominan di hutan bakau ialah siput, ketam, udang serta beberapa jenis ikan-ikan yang aneh. Kawasan ini sesungguhnya taman kehidupan yang menjadi tempat kehidupan berbagai spesies baik darat, udara dan laut. Bagi binatang laut seperti udang dan ikan, kawasan ini adalah kawasan pembiakan di mana binatang-binatang muda mengalami lingkungan yang aman, kaya makanan sebelum mereka beralih ke laut lepas.
Secara ekologis, hutan bakau memainkan peranan yang amat penting. Bila kita memperhatikan lingkungan hutan bakau, ia merupakan satu ekosistem yang sangat produktif. Lingkungan yang kaya ini menyokong rantai makanan kehidupan yang amat beragam yang terdiri daripada ikan, krustasea, burung, mamalia kecil dan hewan-hewan eksotik lainnya. Sumber dan bahan organik yang terbentuk di kawasan hutan bakau turut disebarkan ke lingkungan yang berberdekatan dengannya. Hutan bakau juga berperanan sebagai kawasan pengembangbiakan berbagai organisme. Di samping itu, kehadiran hutan bakau di tepi laut turut melindungi kawasan-kawasan pinggir laut daripada ombak dan arus yang besar.

Hutan Bakau untuk Kehidupan Laut

Kehidupan di planet bumi sesungguhnya mesti bersyukur kepada laut dan ekosistemnya. Karena itu sangat wajar bahwa kita manusia berkewajiban untuk menjaganya, yang harus kita mulai dengan menanam kembali bakau sebagai karya nyata penyelamatan itu.

Mengapa demikian? Karena kemampuan laut menyerap CO2 akan berkurang jika ekosistem laut banyak mengalami kerusakan seperti rusaknya terumbu karang dan hutan bakau. Terumbu karang tak ubahnya bagaikan rumah bagi makhluk laut. Demikian juga halnya dengan hutan bakau, adalah rumah bagi makhluk2 laut yang hidup di dekat pantai. Tanpa terumbu karang dan hutan bakau, perlahan-lahan ekosistem laut akan terancam kelangsungan hidupnya sehingga sumber makanan laut yang dapat diperoleh oleh para nelayan pun akan jauh berkurang.
Jika terumbu karang dan hutan bakau telah rusak, untuk bisa merehabilitasinya diperlukan waktu yang sangat lama dan biaya yang tidak sedikit. Untuk itu marilah kita sama-sama menjaga kelestarian lingkungan kita dan merawatnya dengan penuh rasa tanggungjawab.


Melestarikan Hutan Bakau dan Ekosistem Laut dan Karya Pastoral


Menyimak betapa pentingnya peranan hutan bakau bagi kehidupan manusia, maka upaya nyata untuk memperhatikannya harus menjadi komitmen pastoral Gereja. Kalau sejenak merefleksikan misteri penciptaan alam semesta, tatkala daratan dipisahkan dari air dan laut, maka Tuhan pasti memiliki rencana yang sangat mulia dengan menyediakan secara sengaja wilayah antara yang disebut sebagai pesisir, yang di wilayah kita tentu diperkaya dengan kehadiran hutan bakau dan ekosistem yang ada di dalamnya. Itulah sebabnya kitab suci menggambarkan dengan ungkapan yang indah, "Allah melihat semuanya itu baik adanya."


Dari semula semua diatur baik dan indah oleh Allah untuk kepentingan kehidupan, entah itu kehidupan di laut maupun yang ada di darat, yang pada akhirnya diperuntukan bagi manusia. Makanya perintah Allah untuk mempergunakan alam yang baik pada awalnya ini, mesti disertai dengan tanggung jawab untuk menjaga kelestariannya. Dan inilah tindakan beriman dari orang-orang yang mengakui Allah sebagai Tuhan kehidupan mereka.


Selain pokok di atas, pelestarian hutan bakau berhubungan erat dengan pilihan keberpihakan Gereja dan Tuhan kita atas orang-orang kecil dan sederhana yang hidup di wilayah garis pantai. Mengamati kenyataan kehidupan masyarakat pesisir di wilayah kita yang pada umumnya miskin, kita sebagai orang beriman tidak boleh diam. Kita mesti terlibat. Dan sama seperti reboisasi hutan di daratan berguna untuk kehidupan masyarakat di daratan, maka upaya menghutankan kembali bakau adalah pilihan nyata tindakan iman kita untuk memberikan kemungkinan hidup yang lebih baik buat saudara-i kita masyarakat pesisir.


Dengan menanam bakau, kita menciptakan taman kehidupan untuk ikan, hewan daratan, burung udara dan pada akhirnya memberikan sumber kehidupan bagi saudara-saudari kita di sana. Dan hasil kerja mereka juga menjadi sumber kehidupan buat kita.


Maka tindakan seorang Baba Akong di lokasi pembibitan dan penanaman bakau yang dikelolanya adalah tindakan pastoral, karena ia melanjutkan karya Tuhannya untuk menyediakan sumber kehidupan bagi sesamanya. Akong adalah tokoh iman yang bersama Tuhan berusaha menciptakan hutan bakau sebagai taman kehidupan di perbatasan, darat dan laut. Dan belajar dari seorang Baba Akong dan upayanya melestarikan bakau adalah kesempatan belajar tentang kehidupan yang peduli dengan alam, dengan manusia dan dengan Allah.


Copyright © Ledalero, 24 Nopember 2010, by Anselmus Meo SVD

Saturday, 20 November 2010

5 .BAKAU UNTUK KELESTARIAN ALAM DAN HIDUP

FOTO - BAKAU UNTUK KEHIDUPAN


Sengatan panas mentari di wilayah pantai utara Kabupaten Sikka siang itu tak menyurutkan semangat para mahasiswa STFK Ledalero untuk mendatangi lokasi penanaman bakau di wilayah Magepanda, Sikka. Menggunakan 2 buah truk milik Seminari Tinggi SVD Ledalero, Maumere, tidak kurang 65 orang mahasiswa semester VII yang tinggal di berbagai konvik seperti para frater SVD Ledalero, frater projo Ritapiret, frater Karmel, frater Rogasionis, frater Scalabrinian serta rekan-rekan mereka yang awam pada hari Sabtu, 20 Nopember 2010 mengadakan kegiatan menanam bakau di lokasi yang dikelola oleh Baba Akong di Magepanda. Mereka didampingi oleh para Pembina mereka yang memang cinta pelestarian alam, Pater Feliks Baghi SVD, Pater Aleks Jebadu SVD dan penulis sendiri, Pater Ansel Meo SVD.

“Menanam bakau bukan sekedar untuk kepentingan perlindungan terhadap abrasi dari laut, tetapi untuk melindungi kehidupan,” kata Baba Akong di awal kuliah praktis bagi para mahasiswa STFK yang mengunjunginya siang itu. “Saya telah mengusahakannya sejak tahun 1993, bersama isteri dan anak-anak saya. Saya mencintai usaha dan hobi ini dan menjadikannya pilihan karya dan pelayanan saya untuk masyarakat dan untuk dunia,” lanjut bapak yang sudah nampak tua dan sakit-sakitan ini. Betapa tidak, kecintaannya kepada bakau telah membawa dia pula ke berbagai pelosok Indonesia untuk menanam bakau dan daripadanya ia memperoleh penghargaan Kalpataru di bidang lingkungan hidup.


Kegiatan penanaman bakau tak berlangsung lama, sekitar dua jam saja dan para mahasiswa serta pembinanya membawa masing-masing 3 pohon anakan bakau yang telah dikoker rapi oleh Bapa Akong dan menanamnya sesuai dengan petunjuk Baba Akong yang telah menjadi nara sumber tentang budi daya bakau ini bagi banyak kalangan. Bakau – bakau yang telah ditanamnya memang telah menjadi hutan bakau. “Di sini dulu tak ada nelayan yang mencari ikan, tetapi berkat bakau, ikan-ikan mulai banyak lagi dan para nelayan makin banyak yang mencari mata pencaharian di sini,” katanya sambil menunjuk puluhan perahu dan motor ikan milik para nelayan di teluk di hadapan kami.

Tanaman Bakau adalah tanaman yang hanya dapat kita temui temui di sekitar pantai. Tanaman ini memiliki beberapa jenis, yaitu:

1. Rhizophora : Rhizophora adalah tanaman bakau yang memiliki ciri-ciri: buahnya panjang tetapi akarnya ada yang menusuk ke dalam tanah dan menjalar di permukaan tanah.

2. Siapi-api : Siapi-api, dinamakan begitu karena akar tanaman bakau yang satu ini menjulang ke atas permukaan tanah menyerupai api, selain itu ternyata walaupun berakar panjang tetapi buah tanaman ini hanya sebesar kacang mededan memiliki rasa pahit, namun di orang-orang di pulau jawa mengolah buahnya menjadi keripik siapi-api dengan merendam buahnya selama 2 hari dengan air garam untuk menghilangkan rasa pahitnya, sehingga keripiknya dapat membuat konsumen merasa senang untuk mengkonsumsinya.

3. Pidada : Pidada, adalah bakau yang hanya dapat tumbuh, atau hanya dapat kita jumpai di sekitar sungai, maka bakau ini juga dinamakan bakau sungai. Ciri-cirinya, yaitu: daunnya pendek dan tipis, buahnya mirip seperti buah tomat, buah pohon bakau pidada dapat dikonsumsi oleh para monyet, namun tidak dapat dikonsumsi oleh manusia.

Tentang manfaat Hutan Bakau yang memiliki peranan penting bagi kehidupan kita, baba Akong berujar, “manfaat tanaman bakau memang banyak dan itu diperuntukan bagi kita. Beberapa manfaat yang bisa saya sebutkan, yaitu: mencegah abrasi pantai, menambah daratan, menyerap bahan kimia berbahaya yang ada di air sehingga air dapat dikonsumsi dan tidak mengandung racun, mencegah air laut masuk ke daratan sehingga mencegah banjir rob, dan sebagai tempat berkembang biak bagi para ikan laut. Bakau bisa menjadi perisai alam yang hebat bagi hidup kita dari serangan keganasan laut seperti tsunami, badai dan lain-lainnya,” kata Akong, penerima Kalpataru di bidang lingkungan hidup ini.
Ia masih menambahkan tentang kekhasan hutan bakau, katanya, “Indonesia sangat kaya dengan habitat hutan basah. Hutan basah yang sangat potensial adalah hutan bakau. Hutan diperbatasan darat dan lautan ini sering juga disebut sebagai hutan mangrove. Dinamai begitu karena jenis pohon bakau (rhizophora sp) dengan akar-akarnya yang khas mencuat dari permukaan air. Selain pohon bakau masih banyak jenis pohon dan tumbuhan lain yang ditemukan dikawasan hutan bakau.”

Memang benar. Ekosistim hutan bakau sangat unik, sebab meliputi tiga kawasan yaitu daratan, pantai, dan laut. Hutan bakau terdapat didaerah pasang surut sekitar muara sungai-sungai besar, dan dipantai pasang surut. Hutan bakau hanya ada dikawasan tropis sampai sub tropis dibelahan bumi utara dan selatan.

Tumbuhan bakau sangat khas , karena mampu beradaptasi dalam lingkungan yang kadar garamnya sangat tinggi akibat pasang surutnya air laut. Hutan bakau didaerah muara sungai bisa sangat lebat dan luas, dibanding hutan bakau pada pesisir yang bukan muara sungai.

Copyright © Ledalero, 20 Nopember 2010, by Anselmus Meo SVD

Monday, 11 October 2010

4. TANAH DAN AIR UNTUK PEMBEBASAN DAN KESELAMATAN

Catatan Pengantar :


Bagi umat Paroki Habi, Keuskupan Maumere, tanggal 4 Oktober 2010 barangkali menjadi momen penting dalam sejarah paroki ini, ketika pilihan pastoral mereka diletakan di atas dasar kokoh dengan menempatkan tanah dan air sebagai sarana menuju pembebasan dan keselamatan.


Pengasuh Gubuk Pastor Tani berkesematan untuk menemui sang gembala tani, pastor paroki dan meminta beliau untuk memuat kata sambutannya ketika panen kebun jagung dan pemberkatan 13 sumur bor di wilayah ini. Berikut ini kutipan lengkap sambutannya.

Foto-Foto : Irigasi dan Kebun di Paroki Habi



Sambutan Pastor Paroki Habi
(Senin, 4 Oktober 2010)

Rm.Arkadius Dhosando,Pr

Syukur kepada-Mu Ya Tuhan yang menjadikan langit dan Bumi,  sebab Engkau telah memberikan kepada  kami  kehidupan baru. Engkau telah membalik mimpi-mimpi kami menjadi kenyataan. Kini di atas tanah ini, umat kudusMu dapat melihat pembebasan  dan keselamatan. Tiada kata yang mampu melukiskan seluruh sukacita hati kami ketika  melihat jagung-jagung dan sayur mayur yang terus  bertumbuh segar berkat anugerah air yang Engkau berikan. Kami sungguh mengalami mujizat kasihMu di atas bumi paroki Habi ini.
Yang Mulia Bapak uskup maumere, yang saya hormati bapak Bupati dan Wakil bupati Sikka, Yang saya hormati para Muspida Sikka, yang saya hormati para pimpinan SKPD Sikka, yang saya hormati mama Firmina, para imam, bruder, suster, frater dan singkatnya  bapak-ibu saudara-riku para undangan yang terkasih.
Sepenggal doa yang  kami panjatkan pada pembukaan tadi, sebagai bentuk rasa syukur dan trima kasih serta pujian kita kepada Tuhan Yang Maha baik. Pada saat ini  Saya mewakili seluruh umat paroki Habi menyampaikan syukur berlimpah karena doa-doa kita selama ini telah  dikabulkan oleh Allah Bapa Yang Maha Kuasa.   Kami  sadar bahwa Tuhan tidak secara langsung memberi kita makanan dan minuman  tetapi ia memberikan kita air  yang menjadi sumber kehidupan. Sepanjang sejarah kehidupan   manusia, air merupakan bagian yang tak terpisahkan, ia memberikan warna  kepada wajah bumi ini dan menganugerahkan kesegaran kepada  segala  mahluk.
Senada dalam rasa syukur ini, kami ingin menghaturkan limpah terima kasih kepada semua pihak yang dengan caranya masing-masing telah mengambil bagian dalam   proses pengeboran   dan pengerjaan ke 13 titik sumur di wilayah paroki ini. Trima kasih Kepada seluruh jajaran pemerintah, kepada bapak presiden, bapak menteri, gubernur dan trima kasih buat bapak bupati Sikka dan seluruh jajaranya yang telah membantu dan mendukung kami. Kami juga menghaturkan terima kasih kepada bapak Sammy  L Tokoh, pak Vinsen, pak Piter, pak Yance, pak Kons  dan rekan-rekan lainnya melalui  Program pemboran air tanah   telah membantu dan menolong kami dalam proses pengeboran dan Pekerjaan ke 11 titik sumur irigasi serta 2  titik sumur air baku/air minum di wilayah paroki ini. Pada saat ini pak Sammy L Tokoh dan pak piter pimpin P2AT Propinsi NTT-Flores Lembata tidak sempat hadir bersama kita. Mereka sekarang berada di Jakarta sedang memperjuangkan semua permohonan  proposal kita untuk tahun anggaran 2011. Tadi malam dan pagi ini mereka masih menelfon kepada saya agar dalam perayaan misa syukur ini ada intensi khusus buat perjuangan mereka supaya semua permohanan kita untuk tahun 2011 dapat dikabulkan Tuhan seperti tahun 2008, 2009 dan 2010.Trima kasih juga buat mama Firmina yang sejak  awal sampai saat ini selalu berada bersama kami menolong, mendukung dan memberikan perhatian penuh kasih kepada kami di saat kami sedang mengalami kesulitan dan tantangan. Tentu saja, masih ada lagi banyak pihak yang tak dapat kami sebutkan satu persatu dalam sambutan ini. Namun nama dan jasa baik Anda semua selalu kami kenangkan dalam doa-doa kami.
Kami juga tak   lupa menyampaikan terima kasih kepada Yang Mulia Bapak Uskup Maumere dan seluruh rekan imam yang telah mendukung kami untuk berpastoral bersama umat dan DPP di wilayah paroki ini. Kami yakin tanpa dukungan dan doa-doa tiap hari dari bapak uskup dan para imam yang berkarya di wilayah keuskupan ini tentunya kami tak mampu membalik/mengubah mimpi-mimpi kami menjadi kenyataan.
Sebagai manusia yang lemah kami pun menyadari bahwa dalam seluruh rangkaian pengeboran dan pengerjaan ke 13 titik sumur yang berada di wilayah paroki ini tentu saja ada  hal-hal tertentu yang mungkin tidak berkenan di hati kita semua. Maka sebagai pastor paroki Habi dan mewakili  pimpinan P2AT Propinsi NTT serta pimpinan  Flores Lembata kami menyampaikan permohonan maaf yang sebesar-besarnya.
Peran serta pemerintah dan Gereja tentu sangat besar dalam menyukseskan program pembangunan masyarakat. Untuk itu,  sebagai pastor  paroki dan wakil pastor paroki Habi (Rm. Paulus Bongu), kami mengajak umat sekalian; marilah kita membangun kerja sama yang baik dan sehat dengan pemerintah kita maupun  dengan semua pihak dalam mewujudkan kehidupan yang lebih baik,lebih sejahtera lahir batin. Ada begitu banyak program pemerintah yang bertujuan baik, namun jika kita tidak membangun jembatan yang kuat dan relasi yang harmonis dan sehat di antara kita  maka kita akan terus terkurung dalam jeruji dan lilitan gurita kemiskinan kita.
Saya juga mengajak kita semua umat di wilayah paroki ini untuk terus berusaha mengerjakan semua lahan-lahan kita yang sudah dilewati pipa irigasi. Di tempat ini kita sudah mengalami secara nyata bukan sekedar mimpi. Disini kehadiran dan kebaikan Tuhan dialami secara paling nyata ketika kami menyebutnya dalam Koran flores pos terbitan tgl …. oktober 2010 sebagai upaya dan pencapaian kita dalam berteologi di ladang jagung. Oleh karena itu seraya bersyukur atas apa yang telah kita lihat dan kita alami , kami terus mengajak khususnya kepada orang perorangan maupun kelompok yang lahannya telah mendapat aliran air  dari ke ke 4 titik sumur irigasi yang diberkati hari ini supaya terus berjuang agar aliran air kehidupan tidak berhenti mengalir karena sebab2 tertentu yang kita ciptakan sendiri. Anda dituntut lebih untuk menjadi contoh karena telah menikmati hasilnya. Jadilah contoh yang baik bagi sesama rekan petani. Pepatah latin mengatakan “Verba movent sed exempla trahunt= kata2 memang menggiurkan tetapi contoh lebih menarik orang. Kami juga mengajak semua umat paroki Habi untuk terus mengembangkan langkah-langkah pemberdayaan menuju gerakan solidaritas umat yang telah kita canangkan bersama sebagai pilihan pastoral untuk pembebasan dan pemberdayaan umat. Apabila kita mengerjakan dengan semangat Roh, dengan hati dan kemauan baik maka kita pun akan menuai dan menikmati hasil yang baik pula. Saya amat yakin dan percaya bahwa melalui upaya berteologi  di ladang jagung dan gerakan solidaritas umat serta ketika kita mengerjakan semua lahan  dengan sungguh-sungguh maka proses pemberdayaan dan pembebasan umat dari belenggu kemiskinan perlahan-lahan akan diminimalisir/ dikurangi atau diperkecil.
Di hadapan kita hadir Bapak Uskup Maumere dan Bapak Bupati kita yang terkasih. Kami umat paroki habi sangat senang dan bahagia akan kehadiran dua orang nomor satu di keuskupan dan wilayah kabupaten sikka ini. Umat paroki ini perlahan-lahan mulai berpartisipasi dalam menyukseskan program pemerintah, namun kami umat paroki Habi masih sangat membutuhkan pertolongan dan dukungan dari pemerintah di bidang transportasi. Keadaan jalan raya diwilayah paroki kami sungguh sangat  memprihatinkan, kadang  membuat kami agak sulit memasarkan hasil panenan ke kota maumere. Kadang membuat saya, frater dan romo Paulus dalam berpastoral harus tersungkur dan terkapar  di atas jalan raya yang rusak ini. Namun, kami tetap yakin dan percaya bahwa dalam waktu dekat ini pasti bapak bupati/pemerintah sikka pasti akan memperhatikan keadaan dan situasi kami ini. Kedatangan Bapak Bupati sikka hari ini merupakan dukungan yang luar biasa bagi kami sekaligus sebagai cambuk yang mendorong kami untuk mewujudkan kesejahteraan di atas bumi ini.
Ketika Gereja katolik berbicara mengenai pangan, ada yang konkret untuk diungkapkan, yakni keprihatinan pada upaya keberlanjutan akan ketersediaan pangan dan memelihara keutuhan ciptaanNya. Bahwa Allah menciptakan alam dan segala isinya adalah baik adanya. Manusia dengan akal dan budinya mampu membangun sumber pangan. Namun kondisi saat ini, di mana ada satu dari enam orang di dunia ini terancam kelaparan, Gereja Katolik mempelopori Gerakkan Pangan dan Aksi Solidaritas yang lebih nyata.
Dalam sejarah peradaban, manusia memenuhi kebutuhan  sehari-hari. Dengan berburu dan mengumpulkan bahan pangan sesuai dengan kebutuhannya di lingkungan alam kehidupannya. Keberhasilan bio-teknologi dan produksi massa pangan berhasil membangun sumber pangan yang cukup namun pangan dikuasai oleh pemilik modal. Petani justru menjadi buruh yang miskin. Ketidakadilan ini yang dikritisi Gereja Katolik lewat Ensiklik Rerum Novarum Sampai dengan Caritas in Veritate.
Bapak Suci Paus Benediktus XVI dalam Ensiklik Caritas in Veritate menegaskan pembaharuan paham tentang option for the poor dengan menekankan kesediaan tiap orang katolik untuk menyediakan miliknya bagi sesama yang kurang berada. Semua yang ada pada kita diberikan secara gratis maka kita harus memberikan secara bebas juga. Sebab semua datang karena cinta Allah.
Kelaparan adalah kondisi riil dari kemiskinan yang merupakan dampak dari pembangunan yang kurang adil. Jika pembangunan ekonomi menyebabkan manusia kelaparan, berebut sumber pangan, bahkan dengan saling membunuh, itu bukan pembangunan ekonomi. Sebab di situ hidup dan martabat manusia tidak dihargai, nilai suatu model perkembangan ekonomi terletak pada penghargaan atas martabat manusia yang dihargai lebih dari pada modal dan alat produksi. Suatu masyarakat yang memandang rendah hidup dan martabat manusia dalam tahap apa pun akan melecehkan manusia pada lapisan apa pun; ia akan meremehkan segala yang hidup. Itulah sebabnya, mengapa bapa Suci melihat juga kaitan erat antara sikap dasar ini dengan ekologi, yakni hormat terhadap segala yang hidup, bahkan pada seluruh alam semesta karena seluruh kerusakkan tata nilai dan pengabaian di atas telah mengakibatkan kerusakan alam ini.
Cara hidup Yesus, bersama para muridNya, sangat menghargai kemandirian dan ketersediaan pangan. Pangan adalah buah dari segala usaha manusia dan kemurahan Allah. Tanah,air, danau, sungai, biji/benih, ladang gandum, kawanan domba, kebun anggur, pohon dan rantingnya, ikan dan jala, dan lain sebagainya selalu menjadi warna khas seluruh perjalanan Yesus yang dipakai menjadi media untuk menyampaikan pesan Allah dalam upaya penyelamatan hidup manusia. Yesus tidak hanya berbicara tetapi berbuat dan mewujudkan penyelamatan dalam solidaritas diri kepada manusia. 
Puncak penyelamatan diawali dalam perjamuan terakhir yang merupakan perjamuan persaudaraan di mana Yesus memberikan diriNya menjadi santapan para muridNya dan untuk dikenangkan selama-lamanya. Kerelaan Yesus untuk menjadi pangan abadi merupakan perwujudan penebusan Allah bagi kehidupan mansia. Penebusan ini membawah pemulihan martabat manusia sebagai citra Allah. Menyadari bahwa keselamatan Allah diawali dengan pangan, dan ditandaskan bahwa ketersediaan pangan abadi adalah Yesus kristus sendiri maka sikap dan tindakan kita terhadap pangan adalah memuliakan lebih dari sekedar memelihara sumber pangan. Upaya membangun dan memelihara sumber pangan perlu dinyatakan dalam gerakkan bersama karena Allah sudah memberikan kepada manusia segala hal yang untuk kehidupan. Membangun dan memelihara sumber pangan merupakan panggilan dalam menjaga kehidupan manusia dan keutuhan alam ciptaanNya. Ketika kita membangun sumber pangan, kita diajak bersama untuk merekonstruksi cara berpikir, cara merasa dan cara bertindak kita. Oleh karena itu, marilah kita, umat paroki Habi dalam kebersamaan dengan seluruh umat keuskupan ini membangun kerjasama dengan pemerintahan untuk mewujudnyatakan cita-cita dan harapan dari pemerintah dan Gereja bagi ketersediaan pangan yang cukup di wilayah keuskupan dan kabupaten kita dengan tekun memanfaatkan dan mengerjakan lahan-lahan/kebun kita secara baik.

Copyright ©  Habi - Maumere, 4 Oktober 2010, by Rm. Arkadius Dhosando, Pr.

Monday, 6 September 2010

3. FORMAT TAHUN PERTANIAN ( KEUSKUPAN PURWOKERTO)

BELA RASA PANGAN
“Menjadi Sahabat Bagi Petani”

A.     Pengantar

Alam merupakan hasil karya Allah dan tempat Allah bekerja. Allah menyelenggarakan kehidupan di alam ini dan tidak ada yang luput dari perhatian-Nya. Alam memelihara kehidupan manusia. Alam menyediakan segala yang diperlukan manusia untuk menjamin kelangsungan hidupnya. Bahkan harus diakui kehidupan manusia di bumi ini sepenuhnya bergantung pada alam. Manusia dipanggil untuk mengambil bagian dalam memelihara alam. Tanpa pemeliharaan itu, hidup manusia sendiri akan terancam, karena alam merupakan sumber kehidupannya.

Tanah, air, dan bibit tanaman merupakan bagian dari keseluruhan ciptaan yang peruntukannya demi kesejahteraan hidup manusia, seperti yang dimaksudkan oleh Allah sendiri.  Untuk mencapai maksud dan tujuan tersebut, budidaya pertanian dilakukan oleh manusia dengan mengolah dan mengelola tanah, air, dan tanaman.  Usaha budidaya pertanian ini menjadi investasi keberlangsungan hidup dan kehidupan manusia.

Perkembangan jumlah penduduk dan teknologi membawa dampak perubahan dalam usaha budidaya pertanian.   Pertanian tidak lagi dipandang sebagai investasi keberlangsungan hidup dan kehidupan manusia.  Pertanian menjadi komoditi kegiatan ekonomi.  Perhatian yang berlebihan pada perkembangan ekonomi telah mengabaikan dampaknya bagi lingkungan hidup. Para pelaku pertanian dan ekonomi telah menjalankan kegiatannya dengan dorongan keserakahan, ketidaksabaran, kecerobohan, dan bahkan kebodohan.  Usaha dan budidaya pertanian didorong hanya untuk memenuhi pasar.  Di mana pasar dikuasai oleh pemodal.

Akibatnya, tanah, air dan tanaman sebagai sumber penghidupan pertanian dipandang sebagai faktor produksi yang gratis telah dikuras dan tidak dipelihara.  Tanah diperkosa dengan pemberian bahan-bahan kimia, pengurasan dan pencemaran air, hilangnya bibit atau benih lokal dengan membanjirnya bibit-bibit hibrida atau transgenik, dan keterperukan petani sebagai pengelola pangan oleh tekanan pasar dan keterbatasan pemilikan tanah.

Sebagai citra Allah, manusia adalah rekan kerja Allah dalam memelihara alam semesta. Hubungan manusia dengan seluruh alam merupakan partisipasi dalam hubungan Allah dengan seluruh ciptaan. Manusia harus menyadari bahwa kuasa yang diberikan Allah kepadanya bukanlah kuasa untuk memanipulasi dan mendominasi. Peran Allah dalam mencipta dan memelihara seluruh alam, juga menjadi tugas manusia. Manusia harus membangun kembali alam yang telah rusak dan memelihara kelestariannya.   Atas dasar ini, perhatian dan arah pastoral Gereja Katolik Keuskupan Purwokerto tahun 2010 – 2011 adalah Tahun  Keprihatinan Pertanian.  Bela Rasa Pangan yang terungkap dan terwujud dengan menjadi sahabat bagi petani menjadi tema dan tujuan di Tahun Keprihatinan Pertanian.  Tahun Keprihatinan Pertanian menjadi keberlanjutan Tahun Keprihatinan Kemiskinan yang berakhir pada tanggal 31 Mei 2010.  Karena Petani sebagai pengelola pangan utama dan pertama dalam pertanian, keberadaanya belum diakui.  Mereka dengan segala keterbatasannya dan keterpurukannya masih menjadi orang-orang yang kalah dan terpinggirkan.  Mereka ada dalam rantai kemiskinan yang ada.

B.    Keprihatinan Pertanian Keprihatinan Gereja

1.      Potret Pertanian Dewasa Ini

Ketersediaan sarana produksi pertanian dalam proses pengembangan pangan sudah merupakan tantangan yang paling utama bagi para petani, peternak dan nelayan.  Dalam konteks pertanian, lahan merupakan faktor produksi yang utama, namun unik karena tidak dapat digantikan dalam usaha pertanian. Oleh karena itu, ketersediaan lahan untuk usaha pertanian merupakan syarat keharusan untuk mewujudkan peran sektor pertanian secara berkelanjutan, terutama dalam perannya mewujudkan ketahanan pangan secara nasional. Di sisi lain, secara filosofis lahan memiliki peran dan fungsi sentral bagi masyarakat Indonesia yang bercorak agraris, karena disamping memiliki nilai ekonomis, lahan juga memiliki nilai sosial dan bahkan religius.
Permasalahan yang dihadapi saat ini adalah tingginya tekanan terhadap lahan. Dengan peningkatan jumlah penduduk yang masih sekitar 1,34% per-tahun, sementara luas lahan yang ada relatif tetap, telah menyebabkan terjadinya peningkatan tekanan terhadap sumberdaya lahan dan air terutama di Jawa. Sebagai gambaran, luas rata-rata kepemilikan lahan sawah di Jawa dan Bali hanya 0,34 ha per rumah tangga petani. Secara nasional jumlah petani gurem (petani dengan luas lahan garapan < 0,5 ha) meningkat dari 10,8 juta pada tahun 1993 menjadi 13,7 juta rumah tangga petani pada tahun 2003, dengan rata-rata peningkatan sekitar 2,4% per-tahun.  Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian menyebutkan bahwa lahan pertanian yang tersedia untuk dikembangkan di Jawa tengah seluas 30.922 ha. Sekitar 20.654 ha (66,8%) diarahkan untuk komoditas tanaman tahunan, 8.966 ha (29,0%) untuk komoditas tanaman semusim, dan  1.302 ha (4,2%) untuk padi sawah. Tidak seimbangnya antara luas lahan dengan jumlah petani yang banyak akan mengakibatkan penurunan produktiftas pertanian

Selain makin menyempitnya rata-rata penguasaan lahan oleh petani, terjadi juga persaingan yang tidak seimbang dalam penggunaan lahan, terutama antara sektor pertanian dan non-pertanian. Dalam keadaan seperti ini, bila hanya berpatokan pada nilai ekonomi sewa lahan (land rent economics), maka pertanian akan selalu dikalahkan oleh peruntukan lain seperti industri dan perumahan. Hal itu terlihat dari makin meningkatnya laju besaran konversi atau alih fungsi lahan pertanian dari tahun ke tahun. Konversi lahan sawah menjadi lahan non-pertanian dari tahun 1999-2002 diperkirakan  mencapai 330.000 ha atau setara dengan 110.000 ha/tahun.

Ketidakseimbangan dalam regulasi turut menempatkan “sumber daya pangan” dalam keadaan yang memprihatinkan. Sudah diketahui umum bahwa kalau produk pertanian melimpah harga akan turun. Situasi ini sangat sulit diatasi karena memang petani tidak mampu memilih produk pertanian sehingga masuk akal kalau harga sering dipermainkan atau sangat tergantung pada tengkulak atau pedagang. Lebih-lebih di tingkat petani tidak memiliki kemampuan memperoleh informasi pasar sehingga soal harga sangat  tidak wajar, fluktuatif,  bergantung pada pedagang dan tengkulak

Revolusi Hijau diterapkan (Program BIMAS, INMAS, SUPRA INSUS dan lain sebagainya) dengan untung dan kerugiannya, kita semua bisa menilainya sendiri. Banyak para petani yang sudah kehilangan kearifan budidaya pertanian organik, warisan para leluhur. Bidang pertanian dipacu ke arah agribisnis untuk mengejar ekspor dan mendapatkan dollar dari pasaran dunia. Swasembada beras digalakkan demi stabilitas nasional yang memberi kondisi sebaik mungkin bagi perkembangan industri. Akibatnya para petani kehilangan kemandirian dalam usaha taninya. Sebagai produsen mereka mensubsidi ekonomi nasional, sebagai konsumen tidak ada yang mensubsidi. Petani semakin tergantung dari faktor-faktor luar, sebagai konsumen industri benih, pupuk dan lain sebagainya. Akibatnya bumi semakin dibunuh, pencemaran di mana-mana, benih kuam tani menjadi punah, sedangkan benih dari industri benih transnasional menikmati monopoli (bibit-bibit IR : IR5, IR8, ….IR 33, IR 64, dst). Pengetrapan Revolusi Hijau ternyata telah menghancurkan budaya pedesaan, namun demikian praktek Revolusi Hijau masih berkelanjutan dengan akibat pembunuhan bumi dan kaum tani.

2.      Pastoral Pertanian Gereja

Dunia pertanian, yang bagi masyarakat menyediakan hasil bumi yang dibutuhkan sebagai rezeki sehari-hari, sungguh penting sekali. Kerja bercocok tanam menghadapi kesukaran-kesukaran yang cukup berat, termasuk usaha fisik tiada hentinya dan kadang sungguh melelahkan, lagipula kurang dihargai dari pihak masyarakat, sehingga menyebabkan kaum petani merasa diri tersisihkan dari masyarakat, dan mempercepat kendala perpindahan massal dari daerah pedesaan ke kota-kota dan yang patut disayangkan, menimbulkan kondisi-kondisi hidup yang justru makin kurang manusiawi. Di negeri-negeri tertentu yang sedang berkembang jutaan penduduk terpaksa mengolah tanah milik orang lain, dan dihisap oleh tuan-tuan tanah yang besar, tanpa harapan sama sekali akan mendapat tanah sejengkalpun bagi diri mereka sendiri. Tidak ada bentuk-bentuk perlindungan hukum bagi kaum buruh petani sendiri dan keluarga mereka bila sudah lanjut usia, sakit atau menganggur. Berhari-hari kerja keras fisik dibayar dengan upah yang sangat menyedihkan. Jadi perlulah menyiarkan dan memajukan martabat kerja, semua kerja tetapi khususnya kerja bercocok tanam. Sebab di situlah manusia dengan begitu jelas mengelola bumi yang diterimanya sebagai karunia Allah dan menegaskan kedaulatannya dalam dunia yang kelihatan (Laboren Exercens art 21).

Dalam dunia pertanian manusia menanam dan menyiram tanaman, namun Allahlah yang memberikan pertumbuhan (1Kor. 3:7). Kehidupan di alam ini bergantung semata-mata pada kemurahan hati Allah. Dalam kemurahan-Nya Ia mengasihi semua orang dan alam semesta adalah bukti kemurahan hati-Nya. Gereja yang dipanggil untuk meneruskan kebaikan dan kasih Allah kepada umat manusia sadar bahwa menyelamatkan umat manusia dari kehancuran bumi adalah pelaksanaan perintah cintakasih (Bdk. Yohanes 13:34-35).   Dalam ensikliknya yang pertama, Redemptor Hominis (Art.15 dan 16) Paus Yohanes Paulus II menegaskan bahwa kepedulian terhadap lingkungan hidup dan keutuhan ciptaan adalah bagian hakiki dari Ajaran Sosial Gereja. Nota Pastoral KWI 2005, SAGKI 2005 dan APP 2008 mendorong seluruh umat dan semua pihak untuk menghadapi masalah lingkungan hidup dengan tindakan nyata. Kepedulian Gereja tidak terbatas pada himbauan dan arahan, tetapi juga dalam tindakan nyata dari Gereja setempat.  “Kegembiraan dan harapan, duka dan kecemasan orang-orang jaman sekarang, terutama kaum miskin dan siapa saja yang menderita, merupakan kegembiraan dan harapan, duka dan kekcemasan para murid Kristus juga” (GS. art.1).  Oleh karena itu, kehadiran Gereja ditengah-tengah umat manusia yang menderita ketidakadilan dan ancaman terhadap keutuhan ciptaan menjadi sangat nyata.

Gereja perlu menyadari bahwa kehadiran penyadaran kemanusiaan dalam hal tata kelola pertanian bukanlah pertama-tama persoalan teknis, tetapi bagaimana menyadarkan umat bersama masyarakat menemukan dan menata kembali pemanfaatan alam semesta yang berkeadilan sosial dan berkeutuhan ciptaan sehingga menjadi bermanfaat bagi peningkatan hidup manusia, yaitu terlepas dari kemiskinan, dan pada gilirannya mengembangkan kemampuan bertani dan pertanian yang berdaulat di tengah masyarakat.

Pastoral pertanian Gereja adalah bagian dari perwujudan iman dalam menyadarkan umat bersama masyarakat setempat untuk menghargai, menghormati dan memuliakan keutuhan ciptaan dengan menumbuhkan dan mengembangkan tindakan yang arif, cinta kasih dan berkeadilan terhadap manusia, tanah, air, dan makhluk hidup lainnya. Karena seluruh alam semesta adalah saudara dalam satu pencipta.

3.      Belarasa Pangan

 Hasil akhir dari tata kelola bertani dan pertanian adalah hasil pangan.  Pangan yang sehat dihasilkan dari sumber-sumber pangan (tanah, air, benih/bibit) yang sehat.  Ketersediaan sumber-sumber pangan yang sehat sangat tergantung dari sikap dan tindakan pelaku pangan, yaitu manusia.  Manusia yang beragama dan beriman dengan baik akan mewujudkannya dalam penghormatan, penghargaan dan pemuliaan sumber-sumber pangan.

Gereja Katolik sangat berdekatan dan bersentuhan dengan pangan.  Ekaristi adalah “Pangan Abadi”.  Yesus Kristus merelakan dan menyediakan diri-Nya menjadi sumber pangan abadi bagi manusia (bdk. Yoh, 6,51).  Dengan ikut ambil bagian dalam perayaan Ekaristi secara aktif, kebersamaan dan kebersatuan dengan Yesus Kristus terjadi.  Yesus menjadi santapan abadi yang menyelamatkan hidup manusia.  Keselamatan ini akan terjadi dalam hidup manusia, sejauh manusia juga bersikap dan bertindak seperti Yesus Kristus yang telah berbelarasa dan berbagi menjadi pangan bagi manusia (bdk. Luk 22, 19-20).

Belarasa pangan yang dapat diwujudkan oleh manusia dalam tata kelola bertani dan pertanian adalah dengan mengembangkan sikap dan tindakan hormat, menghargai, dan memuliakan terhadap sumber-sumber pangan, yaitu dengan tidak memberi asupan kimia kedalam tanah, membantu mengembangkan kesejahteraan hidup petani, tidak mencemari air, menggunakan bibit-bibit lokal yang ramah lingkungan, berperilaku adil terhadap petani dan alam ciptaan demi keberlangsungan keutuhan ciptaan dan kesejahteraan hidup bersama.  Sepanjang sejarah kehidupan manusia di bumi, kehidupan manusia ditopang oleh pengolahan tanah. Hingga zaman modern pun pengolahan tanah sebagai sumber kehidupan tidak dapat diabaikan. Hasil tanaman, yang menjadi sumber kehidupan manusia, bergantung pada jenis tanah. Sekalipun pemupukan membantu menyuburkan tanah, keadaan tanah sepenuhnya mempengaruhi tumbuhnya tanaman, dan hasilnya pun bergantung sepenuhnya pada keadaan tanah. Jika orang ingin tetap mendapatkan hasil tanah, tidak ada pilihan lain selain menjaga keadaan tanah agar tetap subur (bdk. Mark 4,8).